Kamis, 17 Mei 2012

Pemikiran Pendidikan K.H Abdul Halim


K.H. Abdul Halim
1.     Riwayat hidup Abdul Halim
Abdul Halim dilahirkan di desa Cibolerang kecamatan Jatiwangi, Majalengka (Jawa Barat) pada tanggal 4 Syawal 1304 H, yakni bertepatan pada tanggal 26 Juni 1887 M, dan wafat di desa Pasir Ayu kecamatan Sukahaji, Majalengka pada tahun 1381 H/1962 (berusia sekitar 75 tahun).
Otong syatori, merupakan nama asli beliau. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau berganti nama menjadi Abdul Halim. Ayahnya bernama K.H. Muhammad Iskandar, penghulu Kewedanaan Jatiwangi dan ibunya Hj. Siti Mutmainnah. Abdul Halim menikah dengan Siti Murbiyah, putri K.H. Mohammad Ilyas.
Abdul Halim tumbuh dan besar dipesantren. Hal ini dibuktikan sejak usia 10 tahun (1897) beliau sudah nyantri di Pesantren K.H Anwar di desa Ranji Wetan, Majalengka. Kemudian belajar kepada Kiai Abdullah di desa Lontangjaya. Berikutnya pindah ke pesantren  Bobos, Cirebon, dibawah asuhan K.H. Sujak. Kepada K.H. Ahmad Saubari di Pesantern Ciwedas. Cilimus, Kuningan, beliau melanjutkan penyantriannya. Beliau pun mesantren kepada K.H. Agus di Kenayangan, Pekalongan. Kemudian kembali lagi k Ciwedas.
Pada tahun 1907, ketika berusia 22 tahun, beliau pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan melanjutkan study. Selama 3 tahun belajar di Makkah, beliau sempat mengenal pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin AlAfgani. Di Mekkah beliau belajar –diantaranya- kepada Syeih Ahmad Khayyat.
2.     Setting sosial
Pada tahun 1328 H/1911 M beliau  kembali ke Indonesia. Di samping menguasai bahasa Arab, ia juga mempelajari bahasa Belanda dari Van Houven (salah seorang dari Zending Kristen di Cideres) dan bahasa Cina dari orang Cina yang bermukim di Mekah. Dengan pengalaman pendidikan dan tukar pikirannya dengan para tokoh besar, baik di luar maupun dalam negeri, Abdul Halim semakin mantap dan teguh dalam prinsip. Beliau  tidak mau bekerja sama dengan pihak kolonial. Ketika oleh mertuanya ditawari menjadi pegawai pemerintah, beliau menolaknya.
Dengan berbekal semangat juang dan tekad yang kuat, sekembalinya dari Mekah, ia mulai melakukan perbaikan untuk mengangkat derajat masyarakat, sesuai dengan hasil pengamatan dan konsultasinya dengan beberapa tokoh di Jawa. Usaha perbaikan ini ditempuhnya melalui jalur pendidikan (at-tarbiyah) dan penataan ekonomi (al-iqtisadiyah).
Dalam merealisasi cita-citanya untuk pertama kalinya Abdul Halim mendirikan Majlis Ilmu (1911) sebagai tempat pendidikan agama dalam bentuk yang sangat sederhana pada sebuah surau yang terbuat dari bambu. Pada majlis ini ia memberikan pengetahuan agama kepada para santrinya. Dengan bantuan mertuanya, KH. Muhammad Ilyas, serta dukungan masyarakat Abdul Halim dapat terus mengembangkan idenya. Pada perkembangan berikutnya, di atas tanah mertuanya ia dapat membangun tempat pendidikan yang dilengkapi dengan asrama sebagai tempat tinggal para santri.
Untuk memantapkan langkah-langkahnya pada tahun 1912 ia mendirikan uatu perkumpulan atau organisasi bernama “Hayatul Qulub”. Adapun tujuan organisasi adalah membantu anggota dalam persaingan dengan pedagang Cina, sekaligus menghambat arus kapitalisme kolonial. Dalam persaingan itu, seringkali terjadi perang mulut dan perkelahian fisik antara anggota Hayatul Qulub dengan pedagang Cina. Melalui lembaga ini ia mengembangkan ide pembaruan pendidikan, juga aktif dalam bidang sosial, ekonomi dan kemasyarakatan. Anggota perkumpulan ini terdiri atas para tokoh masyarakat , santri, pedagang, dan petani.
3. Karya – karya K.H.  Abdul Halim
Abdul Halim adalah ulama yang dapat dikatakan sebagai seorang penulis yang produktif. Banyak tulisan-tulisannya yang sempat diterbitkan. Tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan di kalangan anggota Persyarikatan Ulama dalam bentuk brosur dan buku kecil. Tetapi, sebagian besar tulisannya sudah terbakar sewaktu agresi Belanda ke dua. Di antara karyanya adalah;
a.       Risalah Petunjuk bagi Sekalian Manusia
b.      Ekonomi dan Koperasi dalam Islam
c.       Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama (sebagai Ketua Tim Penyusunan).
d.      DaĆ¢€™watul Amal
e.       Tarikh Islam
f.       Neraca Hidup
g.      Risalah
h.      Ijtimaiyah Wailajuha
i.        Kitab Tafsir Tabarok
j.        Kitab 262 Hadits Indonesia
k.      Babul Rizqi, dll.
Dari nama-nama kitab karangan Abdul Halim ini, yang masih tersisa tinggal 3 yaitu:
1. Kitab Petunjuk bagi Sekalian Manusia
2. Ekonomi dan Koperasi dalam Islam
3. Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama (sebagai Ketua Tim Penyusunan).
Selain itu, tulisan-tulisan Abdul Halim juga dimuat dalam beberapa majalah,
seperti Suara Persyarikatan Ulama, As-Syuro, al-Kasyaaf dan Pengetahuan Islam. Abdul Halim juga menulis di Suara Muslimin Indonesia, Suara MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia) dan di situ, beliau menjadi pengisi artikel Ruangan Hadits. Beliau  juga menulis dalam lembaran-lembaran lain yang beredar dalam bentuk tercetak atau stensil, terutama untuk kalangan organisasi Persyarikatan Ulama.
4.     Pemikiran tentang pendidikan
Di dalam tulisan-tulisan tersebut, dapat dilihat pemikiran Abdul Halim tentang gagasan dan cita-citanya. Meski pun uraiannya dihubungkan dengan masalah keagamaan, tetapi pokok-pokok pikirannya dapat dipahami dari interpretasi yang dikemukakannya.
Pada garis besarnya, pokok-pokok pikiran Abdul Halim bersumber dari penafsirannya tentang konsep al-Salam. Karena menurut pemahamannya, agama Islam memuat ajaran-ajaran yang bertujuan untuk membimbing manusia agar mereka dapat hidup selamat di dunia, dan memperoleh kesejahteraan hidup di akhirat. Kedua macam keselamatan hidup ini disebut al-Salam.

Berdasarkan pengertian tadi, K.H. Abdul Halim melihat, bahwa kesejahteraan hidup di akhirat erat kaitannya dengan keselamatan hidup di dunia. Karena untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera di akhirat , terlebih dahulu manusia harus selamat di dunia, yaitu hidup yang sejalan dengan tuntutan agama. Selanjutnya pendapat tersebut membawa K.H Abdul Halim kepada kesimpulan, bahwa ajaran islam dapat di fungsikan sebagai poedoman untuk membina kehidupan didunia. Dengan kata lain, al-salam dapat diaplikasikan dalam kehidupan praktis melalaui pendidikan, yang ditujukan untuk membimbing manusia agar berakhlak mulia, berilmu pengetahuan, dan dapat bekerja dengan tenaganya sendiri, secara ikhlas dan ridho.
Pemikiran Abdul Halim dapat dirumuskan menjadi;
1)      Konsep al-salam
Menurut pendapat Abdul Halim, bahwa al-salam pada dasarnya adalah upaya untuk membina keselamatan hidup di dunia agar diproleh kesejahteraan diakhirat. Perbaikan yang dilakukan di namakan al ishlah al-Tsamaniyah (8 macam perbaikan) yang dirumuskan menjadi:
a.       Perbaikan aqidah
Perbaikan aspek ini bertujuan agar manusia terhindar dari kecenderungan mengabdi kepada selain Allah. Perbaikan aqidah merupakan langkah untuk membina persaudaraan dan persatuan umat. Karena dengan aqidah dapat dipersatukan dalam kerukunan hidup.
b.      Perbaikan ibadah
Merupakan usaha untuk memberikan contoh dan teladan tentang bagaimana cara melakukan ibadah seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. 
c.       Perbaikan keluarga
Abdul Halim memandang bahwa hubungan antar kerabat sebagai potensi yang dapat di jadikan ikatan kerjasama dan gotong royong.
d.      Perbaikan adat istiadat
Unsur-unsur adat yang sudah menjadi tradisi dan berkembang dimasyarakat
kemudian tidak  bertentangan dengan ajaran agama pantas untuk dilestarikan.
e.       Perbaikan pendidikan
Perbaikan pendidikan menurut K.H. Abdul Halim harus diarahkan ke usaha peningkatan kesejahteraan hidup. Usaha yang dilakukan antara lain adalah menghilangkan kebiasaan yang buruk yang diperoleh (diwarisi) secara turun temurun. Usaha ini dilakukan dengan cara memeberikan pengetahuan yang dapat mencerdaskan pikiran. Dengan cara demikian, maka pengetahuan diharapkan akan mampu untuk membedakan antara sesuatu yang bermanfaat dari sesuatu yang tidak bermanfaat.
Dalam perkembangan selanjutnya, terlihat adanya perkembangan pemikiran K.H. Abdul Halim tentang pendidikan. Menurutnya, pendidikan hendaknya mampu mendidik dan mengajar anak-anak kaum muslimin supaya menjadi manusia yang berharga dunia akhirat.
f.       Perbaikan perekonomian
Perbaikan perekonomian yang dikehendaki oleh K.H. Abdul Halim, tampaknya diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Usaha untuk melakukan perbaikan itu ditempuh dengan cara meningkatkan etos kerja dan sifat hemat yang dikaitkan dengan ajaran agama.
g.      Perbaikan sosial
Sejalan dengan keinginan K.H. Abdul halim untuk membina persaudaraan di kalangan umat islam, maka beliau selalu memperhatikan keadaan masyarakat di waktu itu. Dalam kaitannya dengan keinginannya tersebut, beliau mencoba menerapkan ajaran agama yang menurut pertimbangannya bermanfaat bagi kepentingan sosial, terutama untuk menjembatani perbrdaan-perbedaan yang ada di masyarakat.
h.      Perbaikan umat
K.H. Abdul Halim berpendapat bahwa perbaikan umat merupakan tingkat terakhir dalam membina persatuan kaum muslimin agar menjadi suatu kelompok kehidupan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Dalam usahanya memperbaiki kehidupan umat, K.H. Abdul Halim hanya mengarahkan kepada usaha menjaga terbinanya hubungan persaudaraan di kalangan umat islam. Yakni dengan cara mengamalkan kewajban-kewajiban agama secara sungguh-sungguh, sebab menurut pendapatnya, hubungan itu memang sudah ada dalam tuntutan agama itu sendiri, seperti dalamsholat berjamaah,mengunjungi orang sakit atau aktivitas keagamaan yang lainnya.
2)      Konsep Santri Asromo
               Konsep santri asromo boleh dikatakan merupakan kelanjutan dari pemikiran K.H. Abdul Halim tentang perbaikan pendidikan, seperti yang termuat dalam rumusan konsep al-salam. Pada mulanya usaha perbaikan pendidikan yang dilakukan K.H. Abdul halim terbatas pada kegiatan penyelenggaraan madrasah dan sekolah agama dilingkungan Persyarikatan ulama. Tetapi pada perkembangan selanjutnya, mungkin kegiatan ini dinilainya sudah kurang cocok dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu menurut beliau perlu adanya suatu sistem pendidikan yang sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
               Dengan menjadikan latar belakang turunnya wahyu dan tugas-tugas kerasulan nabi Muhammad saw sebagai pembina akhlak yang mulia, serta pengertian yang tekandung dalam islam sebagai bahan acuan, maka K.H. Abdul Halim memilih daerah Pasir Ayu untuk melaksanakan pendidikan. Dearah ini terletak diperbukitan dan jauh dari keramaian kota, diasosiasikannya dengan latar belakang gua hira. Ditempat yang sunyi ini, menurutnya pendidikan akhlak akan lebih berpangaruh pada anak.
               Dari sisi lain, beliau menilai bahwa unsur adat istiadat yang berkembang di masyarakat perlu dipelihara, karena ada kaitannya dengan latarbelakang sosial budaya setempat. Menurutnya unsur budaya nenek moyang yang sudah berkembang di masyarakat sebagai adat istiadat, mengandung unsur yang dapat dipertahankan dan perlu dimasyarakatkan.
Dilihat dari sudut pandang pendidikan, tampaknya Santri Asromo mencakup bagian yang termasuk milieu (lingkungan) pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

3)      Konsep santri lucu
     Santri lucu menurut K.H. Abdul Halim adalah seorang santri yang memilki ketrampilan dan ilmu pengetahuan, serta dapat bekerja dalam berbagai lapangan kehodupan secara mandiridan mampu membantu orang lain yang memerlukan. Santri lucu adalah santri yang dapat memegang pena dan mampu memegang cangkul.
     Menurut K.H. Abdul Halim para tamatan lembaga pendidikan dimasanya ada dua kelompok yaitu; (1) tamatan lembaga (institusi)  pendidikan pemerintah dan (2) tamatan lembaga (institusi) pendidikan islam. Para tamatan dari kedua institusi ini tidak fungsional. Hal ini dibuktikan msih banyaknya para lulusan sekolah pemerintah hidup tergantung kepada lowongan kerja dipemerintahan. Sedangkan dalam kehidupan sebagai warga masyarakat, mereka yang memilki latarbelakang pendidikan pemerintah Belanda cenderung menganggap diri merek sebagai golongan terpelajar, semestinya dipekerjakan sebagai pegawai dan merasa enggan untuk bekerja dibidang-bidang lain.
     Sedangkan tamatan lembaga islam hanya terbatas pada bidang pendidikan dan pengajaran, yang tidak mungkin menampung semua tamatannya. Kemudian setelah kembali kemasyarakat, para tamatan madrasah dan pesantren itupun belum mampu menciptakan lapangan kerja, karena tidak memiliki pengetahuan mengenai ketrampilan. Akibatnya para tamatan institusi pendidikan islam ketika itu, dinilai K.H.Abdul Halim, hampir tidak ada bedanya dengan tamatan sekolah pemerintah.
     Selanjutnya K.H. Abdul Halim menyimpulkan bahwa ada tiga faktor penting yang dapat menopang usaha untuk meningkatkan kehidupan manusia didunia, yaitu; pertanian, pertukangan, dan perdagangan. Oleh karena itu, pendidikan islam selayaknya dapat menjamin peningkatan kesejahteraan hidup kaum muslimin dan bukan sebaliknya, yaitu membiarkan mereka dalam kebodohan dan kemiskinan.
5.      Analisis pokok-pokok pemikiran K.H. Abdul Halim
            Berdasarkan uraian diatas, tampak bahwa konsep al-salam, Santri Asromo dan konsep santri lucu merupakan satu-kesatuan yang saling berhubungan dan berkaitan sesamanya. Untuk mencapai kesejahteraan hidup didunia dan keselamatan hidup di akhirat, seseorang harus memahami ajaran agama dan mengamalkannya serta memiliki ketrampilan praktis (santri lucu).
               Pendidikan menurut K.H. Abdul Halim harus dapat membentuk kepribadian murid-muridnya dan memberi kesempatan kepada mereka untuk meraihsuatu jabatan dengan bekal ketrampilan yang terlatih.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar