Monday, September 10, 2012

Sejarah Islam Di Nusantara

B. PEMBAHASAN
Teori Masuknya Islam ke Nusantara
1.      Teori Gujarat
Merupakan teori tertua yang menjelaskan tentang masuknya islam ke Nusantara. Ada dugaan bahwa peletak dasar teori ini adalah snnouck hurgronje dalam bukunya l’arabie et les indes. Yang menitik beratkan pandangannya ke Gujarat berdasar atas 3 hal yaitu sebagai berikut :
a.      Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa arab dalam penyebaran islam dinusantara
b.      Adanya kenyataan hubungannya hubungan dagang India Indonesia yang Hah lama terjalin
c.       Inskripsi tertua tentang islam yang terdapat di sumatera member gambaran hubungan antara sumatera dan Gujarat.

2.      Teori Makkah
Hamka dalam seminar sejarah masuknya agama islam di Indonesia lebih menguatkan bahwa bangsa arab sebagai pembawa agama islam ke Indonesia diikuti orang Persia dan Gujarat. Hamka mengatakan pada abad ke 13 di Nusantara telah berdiri kekuatan politik islam, maka sudah tentu islam masuk sebelumnya, yakni abad ke-7
3.      Teori Persia
Teori ini lebih menitik beratkan kepada tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat islam Indonesia, yang dirasa memiliki persamaan dengan Persia. Yaitu peringatan 10 Muharram atau Asyra dengan peringatan syiah atas syahidnya Husein, kesamaan ajaran syaikh siti jenar dengan ajaran sufi Iran al – Hallaj.[1]

Pendidikan Islam dan lembaga pendidikan islam awal di Indonesia
Dalam teori pendidikan dikemukakan paling tidak ada tiga hal yang ditransferkan dari si pendidik kepada si terdidik. Yaitu transfer ilmu, transfer nilai dan transfer perbuatan. Di dalam proses transfer inilah berlangsungnya pendidikan. Berdasarkan  uraian tersebut dapat diketahui  bahwa aktivitas pedangan atau mubaligh awal yang dating di Indones’ a dapat dikatakan sebagai pendidik dan dapat pula di golongkan sebagai aktivitas pendidikan.
Peranan kerajaan – kerajaan islam dalam pendidikan Islam juga sangat berpengaruh dalam proses Islamisasi dan juga kelembagaan pendidikan dalam awal perkembangan Islam dinusantara antara lain :
a.       Aceh
·         Balai setia Hukama ( ahli pikir ). Ilmu pengetahuan
·         Balai ulama – masalah pendidikan.
·         Jamaah Himpunan ulama’ ( diskusi )
b.      Mataram
Ada beberapa lembaga pendidikan Islam awal yang muncul di Indonesia.
·         Masjid atau longgar
·         Pesantren
·         Meunasah, Rangkang dan Dayah
·         Surau[2]
Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Penjajahan Belanda
Meskipun islam masuk di Indonesia pada awal 13 dan langsung menggantikan hindu, namun  adat dan kebiasaan Hindu masih tetap bertahan ini berarti bahwa pada saat itu sudah mulai ada persenyawaan antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam. Islam mengalami perkembangan dan penyebaran sebagai agama resmi masyarakat pada sekitar abad ke 15-16, namun bersamaan dengan situasi ini budaya Eropa- Belanda mulai berpengaruh di Indonesia, karena pada akhir abad ke 16 Belanda mulai dating ke Indonesia. Seregeg menyebutkan tanggal 5 juli 1596, budaya kaum colonial Belandamulai mencengkeram pengaruhnya di Indonesia ruhnya di Indonesia. Sebab untuk pertama kalinya berlabuh di pantai barat Sumatera. Selain itu Maluku juga telah terpengaruh budaya Barat – Portugis terlebih dahulu.[3]
VOC mendirikan sekolah paling pertama di daerah Ambon pada tahun 1607. Tujuannya karena semangat keagamaan Belanda yang Protestan bersebrangan dengan Portugis yang Katholik. Karena itu, pendirian sekolah-sekolah awal diutamakan di daerah yang pernah dimasuki Portugis. Misalnya Ambon sendiri pada rahun 1627 telah berdiri 16 sekolah dan pada tahun 1645 menjadi 33 sekolah.
Reaksi belanda dengan adanya perkembangan usaha sosial paedagonis ini, selain tidak menghargai pendidikan atau abituren sekolah islam yang telah ada pada masa itu, juga mencegah kalangan bangsawan untuk tidak terpengaruh golongan bangsawan terutama dari pihak islam yang akan memungkinkan mengedor kepercayaan terhadap belanda yang berari melemahkan kekuatan mereka.
Sebenarnya masalah pendidikan islam tidak dapat dibatasi oleh kekuatan belanda, sadar atau tidak disadari oleh belanda kenyataan pendidikan islam dapat mengimbangi pendidikan belanda.
Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar yaitu :
1. Pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie)
2. Masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie).
Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Berbeda dengan kondisi di negeri Belanda sendiri dimana lembaga pendidikan dikelola secara bebas oleh organisasi-organisasi keagamaan, maka selama abad ke-17 hingga 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan kontrol ketat VOC. Jadi, sekalipun penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan oleh kalangan agama (gereja), tetapi mereka adalah berstatus sebagai pegawai VOC yang memperoleh tanda kepangkatan dan gaji. Dari sini dapat dipahami, bahwa pendidikan yang ada ketika itu bercorak keagamaan (Kristen Protestan). Hal ini juga dikuatkan dari profil para guru di masa ini yang umumnya juga merangkap sebagai guru agama (Kristen). Dan sebelum bertugas, mereka juga diwajibkan memiliki lisensi (surat izin) yang diterbitkan oleh VOC setelah sebelumnya mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh gereja Reformasi.
Melebihi perkembangan pendidikan di zaman Portugis atau Spanyol. Pendidikan diadakan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi. VOC memang mendirikan sekolah-sekolah baru selain mengambil alih lembaga-lembaga pendidikan yang sebelumnya berstatus milik penguasa kolonial Portugis atau gereja Katholik Roma. Secara geografis, pusat pendidikan yang dikelola VOC juga relative terbatas di daerah Maluku dan sekitarnya. Di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, VOC memilih untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penduduk, tetapi mempergunakan mediasi para penguasa lokal pribumi. Jikalaupun ada, itu hanya berada di pusat konsentrasi pendudukannya yang ditujukan bagi para pegawai dan keluarganya.
Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Pendidikan Dasar
2. Sekolah Latin
3. Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)
4. Academie der Marine (Akademi Pelayanan)
5. Sekolah Cina
6. Pendidikan Islam
Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.
Pada akhir abad ke-18, setelah VOC mengalami kebangkrutan, kekuasaan Hindia Belanda akhirnya diserahkan kepada pemerintah kerajaan Belanda langsung. Pada masa ini, pendidikan mulai memperoleh perhatian relatif maju dari sebelumnya. Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain: (1) Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu agama tertentu; (2) Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung kepentingan kolonial; (3) Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.; (4) Pendidikan diukur dan diarahkan untuk melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial.
Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan. (2) Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan. (3) Pendidikan tinggi.
Dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan islam pada zaman kolonial belanda tidak mendapat rintangan.hal ini ditandai dengan bermunculanya lembaga-lembaga pendidikan yang semuanya berjalan dengan lancar walaupun terlihat abiturienya tidak bisa diterima oleh mereka dan yakin kalau kesadaran dari pihak islam telah timbul untuk tidak bekerja pada belanda yang telah menjadi perintang kemajuan bangsa. Kenyataan seperti ini sayang masih berlaku sampai sekarang sehingga orang-orang islam kurang berperan dalam pemerintahan. Hal ini tentu penyebabnya adalah melemahnya kekuatan politik islam walaupun islam di indonesia mencapai jumlah yang sangat banyak.


Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Penjajahan Jepang
a.       Zaman penjajahan Jepang
Pendidikan pada zaman jepang disebut Hakku Ichu yakni mengajak bangsa Indonesia bekerja sama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama asia raya. Oleh karena itu bagi setiap pelajar setiap hari terutama pada hari mengucapkan sumpah setia kepada kaisar jepang, lalu dilatih kemiliteran.
Jepang mengadakan perubahan dibidang pendidikan, di antaranya menghapuskan dualisme pengajaran. Dengan begitu habislah riwayat penyusunan pengajaran belanda yang dualistis membedakan antara pengajaran barat dan pengajaran pribumi.
Perang dunia II kedudukan jepang terjepit, akhirnya jepang mulai menekan dan menjalankan kekerasan terhadap bangsa Indonesia. Jepang selalu memberlakukan romusha ( kerja paksa ). Kemudian jepang membentuk badan- badan pertahanan rakyat semesta. Kehidupan rakyat semakin tertindas dan menderita, maka lahirlah berbagai pemberontakan.
Pendidikan di zaman jepang dapat bergerak lebih bebas bila di bandingkan dengan zaman belanda. Sehingga pada masa penjajah jepang, atas usaha muh. Yunus di sumbar, dan saat itu dapat di setujui oleh kepala jawatan pengajaran jepang untuk memasukkan pendidikan agama islam kesekolah- sekolah pemerintah mulai sekolah dasar.
Jepang dating di Indonesia sebagai Negara kuat di asia, dan bangsa jepang bercita – cita ingin menjadi pemimpin asia timur raya perkembangan ekonomi dan industry di jepang memberikan gambaran untuk perluasan wilayah termasuk Indonesia. Rencana kemakmuran asia raya disambut hangat oleh kaum militer karena menjanjikan adanya kepahlawanan dan dedikasi.[4]
Sebelumnya pemerintah jepang menampakan diri seakan – akan membela kepentingan islam, yang merupakan siasat untuk kepentingan perang dunia ke II, maksud pemerintah jepang mendekati umat islam supaya kekuatan umat islam dan rasionalisme dapat dibina untuk kepentingan perang asia timur raya yang dipimpin Jepang. Sehingga untuk mendekati umat islam Indonesia, Jepang menempuh kebijaksanaan – kebijaksanaan sebagai berikut :
1.      Kantor urusan agama yang pada zaman belanda dipimpin oleh orang – orang orientalis belanda, di ubah jepang menjadi kantor sumubi yang dipimpin ulama islam sendiri, yaitu KH. Hasyim Asy’ari.
2.      Pondok pesantren yang besar- besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
3.      Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama
4.      Pemerintah jepang mengizinkan berdirinya barisan hisbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi  pemuda islam yang dipimpin oleh KH. Zaenal Arifin
5.      Pemerintah jepang mengizinkan sekolah tinggi islam di Jakarta yang dipimpin oleh  KH. Wahid Hasyim, Kahar Mudzakir dan Moh. Hatta
6.      Para ulama islam bekerja sama dengan pemimpin- pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan pembela tanah air.
7.      Umat islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut majlis islam a’la Indonesia yang bersifat kemasyarakatan.[5]



b.      Pendidikan Islam Pada Masa Penjajahan Jepang
Kehadiran Jepang di Indonesia memang dapat menanamkan jiwa berani pada bangsa Indonesia, tetapi itu semua untuk kepentingan Jepang. Walaupun demikian, pada zaman kependudukan jepang ini, terjadi banyak perubahan yang cukup mendasar dibidang, dan itu semua dilakukan upaya untuk kepentingan perang semata. Murid – murid hanya sedikit sekali diberi ilmu pengetahuan, latihan kemiliteran dan bekerja telah mendominasi sekolah pada saat itu.
Kegiatan – kegiatan sekolah antara lain :
a.       Mengumpulkan batu nisan, pasir untuk kepentingan perang
b.      Membersihkan bengkel – bengkel, asrama – asrama militer
c.       Menanam ubi- ubi, sayur mayur di pekarangan sekolah untuk persediaan makanan
d.      Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.
Karena kegiatan sekolah yang semacam itu, pendidikan secara umum terbengkalai, yang masih agak beruntung adalah madrasah – madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren yang bebas dari pengawasan langsung dari pemerintah jepang dan masih bisa berjalan dan wajar.
Dengan adanya kenyataan yang seperti itu di dunia pendidikan di Indonesia, maka dapat dilihat bahwa sebenarnya tujuan konkret pemerintah jepang adalah untuk menyediakan tenaga  romusha dan prajurit – prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan jepang.
System pendidikan peninggalan belanda yang ada di Indonesia semuanya diubah oleh pemerintah jepang dan hal ini penting sekali artinya bagi bangsa Indonesia, diantara perubahan yang dilakukan adalah :
c.       Hapusnya Dualisme Pengajaran
Pada zaman belanda, di Indonesia diterapkan system yang dualistis, artinya membedakan dua jenis pengajaran, yakni pengajaran barat dan pengajaran bumi putera. Namu habislah riwayat system tersebut karena jepang benar- benar menghapus system itu. Hanya satu jenis sekolah rendah yang diadakan bagi semua lapisan masyarakat, yaitu sekolah rakyat 6 tahun yang popular dengan nama kokumin Gakko, sedangkan yang di desa namanya sekolah pertama.
Jenjang pengajaran yang ada diantara lain :
1.      Sekolah rakyat 6 tahun
2.      Sekolah menengah 3 tahun
3.      sekolah menengah tinggi 3 tahun
4.      Pemakaian bahasa Indonesia

d.      Pemakaian Bahasa Indonesia
Pemakaian bahasa Indonesia, baik sebagai resmi maupun sebagai bahasa pengantar pada tiap – tiap jenis sekolah telah dilaksanaka, tetapi juga sebagai alat untuk memperkenalkan kebudayaan jepang kepada rakyat Indonesia. Sedangkan terhadap pendidikan Islam di Indonesia, ternyata Jepang lebih lunak di banding belanda. Karena yang terpenting bagi jepang adalah keperluan untuk memenangkan perang dan tidak begitu menghiraukan pendidikan agama.
Jepang memberikan keleluasaan pada para pemuka agama untuk mengembangkan pendidikan islam. Hal ini terlihat dengan di bentuknya Kua, Masyumi dan pembentukan Hisbullah. Bahkan pertumbuhan dan perkembangan madrasah pada masa itu sedang gencar- gencarnya , umat islam Indonesia memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mendirikan madrasah. Itulah gambaran pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan islam pada masa yang lenjajahan jepang, walaupun secara umum di bidang pendidikan mengalami kemunduran dan membrosotkan yang luar biasa karena ketatnya aturan jepang serta disiplin mati akibat pendidikan militerisme jepang.
Namun juga tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia juga dapat mendapatkan keuntungan dari jepang khususnya di bidang pendidikan antara lain :
1.      Bahasa Indonesia berkembang secara luas, baik sebagai bahasa pergaulan, pengantar, maupun ilmiah
2.      Buku – buku bahasa asing diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan mengabaikan hak cipta Internasional karena dalam keadaan perang.
3.      Kreatifitas guru berkembang, termasuk dalam hal menyalur maupun mengarang buku
4.      Seni bela diri dan latihan perang sebagai kegiatan kurikuler sekolah sehingga membangkitkan keberanian para pelajar Indonesia.
5.      Tidak ada diskriminasi, khususnya dibidang pendidikan
6.      Sekolah – sekolah di seragamkan dan sekolah swasta di negerikan dibawah pengaturan kantor pengajaran Bukyokyoku
7.      Latihan militer justru membuat rasa nasionalisme pemuda Indonesia bergejolak dengan luar biasa
8.      Bangsa Indonesia didik dan dilatih untuk memegang jabatan walaupun dibawah pengawasan orang- orang jepang.

e.       Tujuan pendidikan islam zaman penjajahan
Misi islam itu sendiri secara garis besar adalah untuk memperbaiki peri kehidupan manusia dimana saja berada. Islam tidak lain adalah agama yang demokrasi, yang menghendaki hidup damai antar sesama manusia baik sesama muslim maupun muslim yang lain. Berikut diuraikan bahwa tujuan pendidikan islam secara garis besar adalah dibagi menjadi dua bagian:
1. mempertebal akan keyakinan itu sendiri,dan membentuk kecerdasan bangsa sebagai mana dalam buku sejarah dikatakan bahwa kedatangan islam di Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia
2. untuk mempertahankan HAM dengan jalan politik atau perlawanan perang demi tercapainya HAM tersebut menurut islam, yaitu mempertahankan kebenaran, jika kebenaran telah terjelma maka itulah sebagian yang dikehendaki islamuntuk tercapainya tujuan islam secara keseluruhan.
Ringkasnya dalam usaha untuk memajukan pendidikan tidak lepas dari tujuan untuk memperjuangkan bangsa Indonesia dari pengaruh imperialis,kata KH. Saifudin zuhri (1976:322)
Disini beberapa tujauan pendidikan islam ketika zaman penjajahan antara lain:
a. azaz tujuan muhamadiyah: mewujudkan masyarakat islam yang sebenarnya dan azaz perjuangan dakwah islamiyyah dan amar ma’ruf nahi Munkar
b. INS(Indonesische Nadelanshe School) dipelopori oleh Muhammad syafi’i )1899-1969) bertuan memdidik anak untuk berpikir rasional, mendidik anak agar bekerja sungguh-sungguh, membentuk manusia yang berwatak dan menanam persatuan.
c. Tujuan Nahdlatul Ulama’, sebelum menjadi partai politik memgang teguh mahzab empat, disamping mejadi kemaslahatan umat islam itu sendiri.
Kesimpulanya ialah bahwa tujuan pendidikan islam yang pertama adalah menanamkan rasa keislaman yang benar guna kepentingan dunia dan Akhirat, dan yang kedua membelah bangsa dan tanah air untuk memdapatkan kemerdekaan bangsa itu sendiri ataupun kemerdekaan secara manusiawi.[6]


[1] Khozin.  Jejak – jejak Pendidikan Islam  di Indonesia. Rekonstruksi sejarah untuk aksi. Malang : UMM Press, 2006 h.33-44
[2] Haidar  Putra Daulay. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : Kencana, 2007, hal 14-26
[3] Khozin……..hal.7
[4][4] Hasbullah,  Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada 1995 ) h. 61
[5] Zuhairini dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara. 1997. Hal 151
[6] http://cepkamal.wordpress.com/2010/02/02/pendidikan-islam-pada-masa-penjajahan/