Selasa, 26 Juni 2012

Pemikiran Pendidikan Ibnu Sina

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (980 M), dalam banyak hal unik. Diantara para filosof muslim, ia tidak hanya uni tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci. Suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim selama beberapa abad.
Ibnu Sina merupakan filosof muslim yang berani melawan kekangan filsafat Yunani, bahkan buah pemikirannya juga dikonsumsi oleh para pelajar barat.
Dia adalah seorang yang menggunakan dunia sebagai ladang aktivitas untuk menjalankan rencana dan mimpi untuk menikmati hasilnya. Dia percaya bahwa orang bisa menikmati dunia melalui pencarian tentang rahasia alam seluas-luasnya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    RIWAYAT HIDUP IBNU SINA
Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina (980 – 1037) atau yang secara umum dikenal dengan Ibnu Sina atau Avicenna (bahasa Latin yang didistorsi dari bahasa Hebrew Aven Sina) adalah seorang ensiklopedis, filsuf, fisiologis, dokter, ahli matematika, astronomer, dan sastrawan.
Bahkan, di beberapa tempat ia lebih terkenal sebagai sastrawan daripada filsuf muslim yang sangat terkenal dan salah seorang ilmuwan dan filsuf terbesar sepanjang masa. Diakui oleh semua orang bahwa pikirannya merepresentasikan puncak filsafat Arab. Dia dipanggil oleh orang Arab dengan sebutan Asy-Syaikh Ar-Rais.
Dia lahir di Afsanah, Bukhara, Transoxiana (Persia Utara). Dia mengajar kedokteran dan filsafat di Isfahan, kemudian tinggal di teheran. Dia adalah seorang dokter ternama di mana mulai abad ke-12 sampai ke-17, bukunya dalam bidang pengobatan, Qanun fi Ath-Thibb, menjadi rujukan di berbagai univesitas Eropa.
Dia menjadi sahabat karib raja karena keahliannya dalam masalah pengobatan. Di usia senam belas tahun, ia telah menyembuhkan Sultan Samaniah, Nuh bin Masnur, dari pengakit serius yang dideritanya. Dia kemudian diangkat menjadi dokter istana. Dengan posisinya ini, dia memiliki kesempatan untuk mempelajari buku-buku langka di perpustakaan Sultan. Dalam usia dua belas tahun, dia telah banyak meringkas buku-buku filsafat. Bahkan, buku pertama yang ditulisnya dalam masalah psikologi dipersembahkan untuk Sultan, dengan judul Hadiyah ar-Ra’is ila al-Amir.
Dia banyak menulis buku dalam berbagai persoalan, mulai filsafat, geometri, aritmatika, bahasa, teologi, sampai musik. Yang paling terkenal di antaranya ialah Kitab asy-Syifa’ yang terdiri dari 18 jilid, an-Najah terdiri dari 10 jilid, al-Hikmah terdiri dari 10 jilid, dan Qanun fi ath-Thibb yang didalamnya berisi lebih dari 700 resep dan kegunaannya.
Di usia 22 tahun, setelah kematian ayahnya, ia meninggalkan Bukhara menuju Jurjan. Tidak lama kemudian ia meninggalkan Jurjan karena kekacauan politik. Dia pergi ke kota Hamazan, di mana ia berhasil menyembuhkan penyakit Sultan Syams ad-Dawlah dari Dinasti Buwaihi. Atas jasanya, Sultan mengangkatnya menjadi perdana menteri di Rayyand, tetapi kalangan tentara memusuhinya dan menjebloskannya ke dalam penjara. Atas bantuan Sultan, dia dikeluarkan dari penjara.
Sekali lagi, dia berhasil menyembuhkan penyakit Sultan. Dan sekali lagi, ia diangkat menjadi menteri di hamadan. Jabatan ini diembannya sampai meninggalnya Sultan. Ketika ia hendak pergi ke Isfahan, ia ditangkap oleh Taj al-Muluk, putera Sultan Syams ad-Dawlah, dan dijebloskan ke penjara selama empat bulan. Dia dapat melarikan diri ke Isfahan dengan cara menyamar.
Dia meninggal di usia 57 tahun, di mana diakhir hayatnya ia menjadi guru filsafat dan dokter di Isfahan.[1]
Ia mempunyai ingatan dan kecerdasan yang luar biasa sehingga dalam usia 10 tahun telah mampu menghafal al-Qur’an, sebagian sastra Arab, dan ia juga hafal kitab metafisika karangan Aristoteles, setelah membacanya 40 kali. Ia juga mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi.[2]

B.     PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU SINA
1.      Tujuan Pendidikan
Menurut Ibnu Sina tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk manusia yang berkepribadian akhlak mulia. Ukuran berakhlak mulia dijabarkan secara luas yang meliputi segala aspek kehidupan manusia. Aspek-aspek kehidupan yang menjadi syarat bagi terwujudnya suatu sosok pribadi berakhlak mulia meliputi aspek pribadi, sosial, dan spiritual. Ketiganya harus berfungsi secara integral dan komprehensif.
Orang yang mempunyai akhlak mulia akan dapat mencapai kebahagiaan (sa’adah). Kebahagiaan menurut Ibn Sina, dapat diperoleh manusia secara bertahap. Mula-mula kebahagiaan secara individu dan kebahagiaan ini akan tercapai jika individu memiliki akhlak mulia. Jika setiap individu yang menjadi anggota rumah tangga memiliki akhlak mulia, maka akan tercapai pula kebahagiaan rumah tangga. Jika masing-masing rumah tangga berpegang pada prinsip akhlak mulia, maka akan tercapailah kebahagiaan dalam masyarakat dan bahkan kebahagiaan manusia secara keseluruhan.
Untuk terciptanya sosok manusia yang berakhlak, maka harus dimulai dari dirinya, serta ditunjang kesehatan jasmani dan rohani. Bila kondisi ini dapat dimiliki, maka manusia akan mampu menjalankan proses muamalat dengan teman pergaulan dan lingkungannya, serta mampu mendekatkan diri kepada Allah, bahkan pada akhirnya akan mampu melakukan ma’rifah kepada Allah. Kondisi yang demikian merupakan puncak dari tujuan pendidikan manusia.
Rumusna tujuan pendidikan yang diformulasi Ibn Sina tampak dipengaruhi oleh pemikiran filsafat dan metafisisinya, di samping pengaruh sosio kultural dan politik waktu itu. Namun demikian, ada dugaan kuat bahwa pengaruh tersebut justru muncul dari iman dan takwa, serta konsep ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
2.      Kurikulum
Sesuai dengan konsep dasarnya, yaitu pendidikan akhlak, maka dalam merumuskan bahan pengajarannya diawali dengan materi al-Qur’an. Dalam pengajaran al-Qur’an seorang peserta didik pada awalnya hendaklah diperkenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah yang ditemukan dalam syair-syair dan beberapa ilmu lainnya. Setelah itu, pendidik harus melakukan pengamatan tentang apa yang menjadi minat dan bakat peserta didiknya. Penidik hendaknya berusaha membimbingnya ke arah pengembangan totalitas potensi dan kepribadiannya secara utuh. Hal ini menurut Ibnu Sina merupakan esensi tujuan pendidikan Islam yaitu untuk mengisi lapangan kerja yang ada dalam masyarakat.
Menurutnya, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, peserta didik hendaknya memulainya dari mempelajari al-Qur’an. Dalam waktu bersamaan, peserta didik juga disuruh mempelajari ejaan huruf, menghafal syair, dan pepatah. Setelah mereka sudah pandai membaca, menghafal al-Qur’an dan menguasai pelajaran bahasa Arab, maka kemudian mereka diarahkan kepada mata pelajaran yang sesuai dengan bakatnya. Dalam konteks ini, pendidik hendaknya berusaha untuk membimbing peserta didik ke arah tercapainya tujuan pendidikan (Islam) yang diinginkan.
3.      Proses Pembelajaran
Dalam masalah proses pembelajaran, Ibnu Sina telah meletakkan dasar psikologi pendidikan. Hal ini terlihat bahwa ia sangat memperhatikan kondisi psikologi peserta didik. Sikap yang demikian dapat terlihat dari uraiannya mengenai pendidikan peserta didi bila dilihat dari tingkat usia, bakat, dan kemauan peserta didik. Dengan mengetahui latar belakang, bakat dan kemauan peserta didik, maka bimbingan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik akan lebih berhasil.
Berdasarkan tujuan pendidikan yang telah diformulasi di atas, ia juga membicarakan bagaimana upaya untuk mendorong tercapainya tujuan pendidikan yang telah disusun. Diantara upaya tersebut adalah Ibnu Sina telah ikut mencoba membicarakan cara memotivasi peserta didik ke arah akhlak mulia. Dalam perumusan, tampaknya Ibnu Sina dipengaruhi oleh pribadi ketabibannya. Untuk memotivasi kemampuan peserta didik secara maksimal, maka pendidik harus bertindak secara taktis dan jangan sampai salah langkah. Pujian perlu diberikan guna membangkitkan semangatnya. Hukuman juga harus digunakan bila hal tersebut dipandang perlu. Di antara hukuman yang dimaksud adalah bisa berbentuk pukulan ataupun ancaman bila memang kondisinya mengijinkan. Begitu pula sikap pendidik. Pendidik harus menggunakan cara lain; pendekatan persuasif atau takhwil. Suatu saat, pendidik dapat menunjukkan wajah muram dan marah, sebagai tanda tidak senang terhadap penyimpangan peserta didik terhadap akhlak mulia. Demikian pula sebaliknya.
4.      Metode Pembelajaran
Dari segi metode, Ibnu Sina metode diskusi (mujadalah). Metode ini dilakukan melalui aktifitas siswa. Mereka ditekankan dan dibiarkan berbincang-bincang dengan sesama temannya. Melalui bentuk belajar yang demikian, maka peserta didik dapat mengembangkan potensi nalar dan sosialnya. Metode lain yang dikembangkan ialah pembiasaan dan penciptaan lingkungan kondusif akhlaki.[3]
5.      Konsep Guru
Konsep guru yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain berkisar tentang guru yang baik. Dalam hubungan ini, Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan bermain-main di hadapan muridnya, tidak bermuka masam, dan sopan santun. Lebih lanjut Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten, dalam membimbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak dan lain-lain.
Tugas seorang guru dalam mendidik tidaklah mudah, sebab pad ahakikatnya tugas pendidikan yang utama adalah membentuk perkembangan anak dan membiasakan kebiasaan yang baik dan sifat-sifat yang baik menjadi faktor utama guna mencapai kebahagiaan anak. Oleh karena itu, ornag yang ditiru hendaklah menjadi pemimpin yang baik, contoh yang bagus dan berakhlak hingga tidak meninggalkan kesan buruk dalam jiwa anak yang menirunya (Azra, 1999: 81).
Jika diamati secara seksama, tampak bahwa potret guru yang dikehendaki Ibnu Sina adalah guru yang lebih lengkap dari potret guru yang dikemukakan para ahli sebelumnya. Dalam pendapatnya itu, Ibnu Sina tidak saja menekankan unsur kompetensi atau kecakapan dalam mengajar, tetapi juga berkepribadian yang baik. Dengan kompetensi itu, seorang guru akan dapat mencerdaskan anak didiknya dengan berbagai pengetahuan yang diajarkannya dan dengan akhlak ia dapat membina mental dan akhlak anak.
6.      Konsep Hukuman dalam Pengajaran
Ibnu Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan sangat terpaksa, hukuman dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu Sina menyadari bahwa manusia memiliki naluri yang sellau ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar, dan lebih suka diperlakukan halus. Atas dasar pandangan kemanusiaan inilah, Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan hukuman. Penggunaan-penggunaan bantuan tangan adalah pembantu paling diandalkan dan merupakan seni bagi seorang pendidik. Dengan ada kontrol secara terus menerus mendidik anak dapat diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan. (Azra, 1999: 83)
Ibnu Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati dan hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal, sedangkan dalam keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistik ini sangat sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan sebagainya.[4]

C.    GAGASAN DAN KONSEP PEMIKIRAN IBNU SINA
Ibnu Sina sangat mementingkan “Self education” mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain. Prof. Ruben Levy yang menulis resensi buku al-Siyasah Ibnu Sina mengulas tentang hal ini pada bagian terakhir dalam sebagian karangannya. Ibnu Sina membicarakan tentang kontrol yang langsungd ari manusia, bahwa sebelum manusia mendidik dan memerintah orang lain, sebaiknya ia pandai mendidik dirinya. Ibnu Sina adalah salah satu contoh dari Autodidak muslim yang sanggup meluaskan dan memperdalam pengetahuannya dengan kekuatan hati dan otak.[5]
Ibnu Sina berpendapat bahwa ilmu pengetahuan terdiri dari 2 jenis, yaitu:
a.       Ilmu Teoritis
Ilmu ini mencakup ilmu alam, matematika, ilmu illahi atau ketuhanan (yaitu ilmu yang mengandung itibar tentang wujud kejadian alam dan isinya dengan analisa yang jelas dan jujur sehingga dapat dikteahui siapa penciptanya.[6]
b.      Ilmu Amali / Praktis
Adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia dilihat dari segi tingkah laki individualnya. Ilmu ini menyangkut ilmu akhlak dan bila dilihat dari segi tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain maka ilmu ini termasuk ilmu siasat (politik). Adapun filsafat mencakup semua ilmu tersebut yang tujuannya adalah mengetahui hakikat segala sesuatu menurut kemampuan manusia untuk mengetahuinya. Tujuan filsafat secara teoritis adalah untuk menyempurnakan jiwa dengan ilmu, sedang tujuan praktisnya adalah menyempurnakan jiwa dengan melalui amal perbuatan.[7]
Menurut Ibnu Sina yang harus diajarkan dan dipelajari oleh manusia melalui proses kependidikan adalah ilmu-ilmu teoritis yang jenisnya saat ini banyak sekali.[8]
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina yaitu pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangan yang sempurna, meliputi fisik, intelektual dan budi pekerti, tampaknya Ibnu Sina berdiri di antara faktor dasar (potensi yang dimiliki manusia sejal lahir, fitrah), dan ajar (pembinaan yang dilakukan melalui pendidikan).
Selain itu Ibnu Sina berpendapat tujuan pendidikan harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan mengerjakan yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan dan kecenderungannya dan potensi yang dimilikinya, juga diberikan pendidikan keterampilan supaya tumbuh tenaga-tenaga profesional pandangan ini tidak akan jelas tanpa mengaitkan dengan pandangannya mengenai hakikat manusia (anak didik) dan materi kurikulum.
Kurikulum menurut Ibnu Sina lebih lanjut, harus didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik.
1)      Pada usia 3 – 5 tahun perlu diberikan pelajaran olahraga, budi pekerti, seni suara dan kesenian.
2)      Anak usia 6 – 14 tahun mata pelajaran yang cocok diberikan adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an, pendidikan agama, syair dan olahraga
3)      Untuk anak usia 14 tahun ke atas harus menerima mata pelajaran yang jumlahnya, lebih banyak, tapi harus disesuaikan dengan minat dan bakat mereka sehingga mereka akan belajar dengan suasana yang menyenangkan.
Tujuan utama pendidikan menurut Ibnu Sina pertama adalah lahirnya insan kamil, yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh. Kedua tersedianya kurikulum yang memungkinkan berkembangnya seluruh potensi manusia meliputi dimensi fiksi, intelektual dan jiwa.
Menyingkap metode belajar, Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu pelajaran tertentu tidak akan bisa dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu siswa saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Penyampaian materi pelajaran pada anak harus disesuaikan dengan sifat materi tersebut sehingga antara materi dan metode akan terintegrasi. Adapun metode yang dikemukakan adalah metode talqin, demonstrasi, pembiasaan, teladan, magang dan penugasan.[9]
Ibnu Sina dan Pendidikan Anak
Usaha sosialisasi anak ke tengah masyarakat luas lewat pendidikan mendapat perhatia khusus dari Ibnu Sina. Prof. Dr. Syalibi mengatakan bahwa menurut Ibnu Sina bila seorang anak telah berumur 6 tahun maka wajiblah diserahkan kepada guru (pendidik). Pendapat Ibnu Sina didasarkan pada alasan bahwa perasaan sosial anak dapat berkembang lagi setelah memasuki sekolah. Oleh karena itu, tanggung jawab keluarga mempersiapkan perasaan anal-anak sebelum memasuki sekolah kehidupan keluarga yang bahagia lahir batin akan memberikan ciri-ciri hidup kejiwaan dan pribadi anak yang memudahkan berkembangnya sikap penyesuaian sosial anak di sekolah dan di luar sekolah.[10]

D.    ANALISIS KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN MENURUT IBNU SINA
Dalam konsep pemikiran Ibnu Sina, ia membagi ilmu pengetahuan menjadi ilmu teoritis dan ilmu praktis. Pembagian kedua ilmu tersebut berpengaruh dalam atau menjadi awal perkembangan ilmu. Dengan adanya pembagian ilmu secara teoritis dan praktis akan menjadikan pengajian dan pengembangan ilmu lebih spesifik.
Ibnu Sina juga telah mengenalkan mengenai kurikulum pendidikan dan metode belajar, yang mana kurikulum pendidikan klasik hanya berdasar pada perkembangan sosial kultural, isi kurikulum semakin meluas. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Sina juga merupakan salah satu pelopor kajian kurikulum klasik.
Selain itu, Ibnu Sina memiliki konsep pendidikan pada anak usia dini. Bagi Ibnu Sian, pendidikan bermula sebelum individu dilahirkan pembentukan moralitas dan karakter mesti dilahirkan sejak awal. Pada tingkat pertama proses sosialisasi anak ke sekolah, menurutnya perhatian jangan hanya dipusatkan pada pemberian ilmu pengetahuan saja, tetapi daam waktu yang sama hendaklah juga mementingkan pendidikan budi pekerti.
Dari konsep pemikiran tersebut, dapat dilihat peranannya dalam pendidikan usia dini di era modern sekarang pada era modern ini semain banyak lembaga pendidikan usia dini maupun lembaga-lembaga pendidikan yang menetapkan dan mengembangkan pendidikan budi pekerti. Ibnu Sina merupakan tokoh filosof yang lebih dikenal sebagai ahli kedokteran.



DAFTAR PUSTAKA


Azra, Azyumardi. 1998. Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacna Ilmu.

Hamdi, Ahmad Zaenul. 2006. Tujuh Filsuf Muslim. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.


Kurniawan, Syamsul & Erwin Mahrus. 2001. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta; Ar- Ruzz Media.

Ramayulis dan Samsul Nizar. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Ciputat : Quantum Teaching.

Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.



[1] Ahmad Zaenul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 89-92
[3] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam (Ciputat : Quantum Teaching, 2005), hlm. 31-35,.
[4] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta; Ar- Ruzz Media, 2001), hlm. 84-86
[5] Azyumardi Azra, Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacna Ilmu, 1998), h. 80
[6] Ismail Thoib, Wacana Pendidikan Meretas Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Gema Press, 2008)
[7] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h. 164
[8] Ismail Thoib, Op.cit.,
[9] Abu Dinata, Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004), h. 239-240
[10] Ibid., h. 80-81

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar