Jumat, 19 April 2013

Pengertian Pendidikan Karakter

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pengertian pendidikan karakter, terlebih dahulu akan dijelaskan masing-masing dari definisi pendidikan dan juga definisi karakter.
1.         Pengertian Pendidikan
Menurut W.J.S. Poerwadarminta dalam Beni Ahmad Saebani, dijelaskan bahwa pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata dasar didik, dan diberi awalan –me, menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Istilah pendidikan formal dikenal dengan kata “education” yang berasal dari kata “to educate” yakni mengasuh, mendidik. Dalam Dictionary of Education, makna education adalah kumpulan semua proses yang memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk tingkah laku yang bernilai positif di dalam masyarakat tempat ia hidup.[1] Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk memotivasi, membina, membantu, serta membimbing seseorang mengembangkan segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik.[2]
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[3]
Banyak para tokoh pendidikan yang berlainan memberikan definisi tentang pendidikan. Walaupun demikian, pendidikan berjalan terus tanpa menunggu keseragaman arti. Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal.
Dalam pandangan John Dewey, menjelaskan bahwa,
“pendidikan adalah sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, yang menyangkut; daya pikir (intelektual) maupun daya rasa (emosi) manusia.”

Lebih lanjut, Soegarda Poerwakawatja menguraikan bahwa,
“pengertian pendidikan dalam arti yang luas sebagai semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, dan keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkan generasi muda agar dapat memahami fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.” [4]

Menurut Herman H. Horne sebagaimana dikutip Abdul Khobir mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses penyesuaian diri manusia secara timbal balik degan alam sekitar, dengan manusia dan dengan tabiat tertinggi dari kosmos. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh terpisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak yang kita didik sesuai dengan dunianya dan dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[5]
Menurut Abuddin Nata, pendidikan dapat diartikan secara sempit dan dapat pula diartikan secara luas. Secara sempit dapat diartikan bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasa. Sedangkan  pendidikan dalam arti luas adalah segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik.[6]
Dengan demikian, dari uraian beberapa pengertian pendidikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah sebagai suatu proses usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai dan dasar-dasar pandangan hidup kepada peserta didik, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggungjawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakiki dan ciri-ciri kemanusiaanya.

2.         Pengertian Karakter
Secara etimologis, kata karakter berarti tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Dalam bahasa Inggris, karakter (character) diberi arti a distinctive differentiating mark, tanda atau sifat yang membedakan seseorang dengan orang lain.[7] Sedangkan menurut Abdullah Munir menjelaskan bahwa karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang artinya mengukir. Dari arti bahasa ini, dapat dipahami bahwa sifat utama ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir. Begitu juga dengan sifat utama karakter yaitu melekat kuat pada intividu.[8]
Menurut Dorland’s Pocket Medical Dictionary sebagaimana dikutip oleh M. Furqon Hidayatullah dinyatakan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu.[9] Di dalam kamus sosiologi dijelaskan bahwa karakter adalah ciri khusus dari struktur dasar kepribadian seseorang (watak).[10] Sedangkan di dalam kamus psikologi dinyatakan bahwa karakter adalah satu kualitas atau sifat yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seseorang pribadi.[11]
Sedangkan pengertian karakter secara terminologis, para ahli memberikan pengertian yang bermacam-macam, tergantung dari sisi atau pendekatan apa yang dipakai. Menurut Hermawan Kertajaya sebagaimana yang dikutip oleh Jamal Ma’mur Asmani dinyatakan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu.[12]
Menurut Dodi Koesoemo Albertus dalam Jamal Ma’mur Asmani dijelaskan bahwa, karakter diasosiasikan dengan temperamen yang memberinya sebuah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Karakter juga dipahami dari sudut pandang behavioral yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki oleh individu sejak lahir. Di sini karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang, yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya pengaruh keluarga pada masa kecil dan bawaan seseorang sejak lahir.[13]
Menurut Muchlas Samani dan Hariyanto, menjelaskan bahwa,
“karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya.” [14]

Selanjutnya menurut Scerenko sebagaimana yang dikutip oleh Muchlas dan Hariyanto menyatakan bahwa, karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa.[15]
Menurut Kemendiknas dalam Agus Wibowo dijelaskan bahwa karakter adalah watak, tabiat, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues), yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak.
Sedangkan menurut Marzuki karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.[16]
Menurut Simon Philips sebagaimana yang dikutip Fatchul Mu’in dijelaskan bahwa, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan.
Sementara, Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan personality. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.[17]
Dari beberapa definisi karakter yang telah diuraikan memang terdapat perbedaan sudut pandang sehingga menyebabkan perbedaan definisinya pula. Kendati demikian, jika dilihat esensi dari berbagai definisi tersebut terdapat kesamaan bahwa karakter itu mengenai sesuatu yang ada dalam diri seseorang, yang menyebabkan orang tersebut disifati.
Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter adalah sifat yang mantap, stabil dan khusus yang melekat dalam pribadi seseorang yang membuatnya bersikap dan bertindak secara spontan, tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan dan tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu.

3.         Pengertian Pendidikan Karakter
Setelah mengetahui definisi dari pendidikan dan karakter, lalu apakah pengertian pendidikan karakter itu?. Menurut T. Ramli sebagaimana yang dikutip Zainal Aqib dan Sujak menjelaskan bahwa, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina kepribadian generasi muda.[18]
Menurut Ratna Megawangi, pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Definisi lainnya dikemukakan oleh Fakry Gaffar, pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dalam definisi tersebut, ada tiga ide pikiran penting, yaitu: 1) proses transformasi nilai-nilai, 2) ditumbuhkembangkan dalam kepribadian, dan 3) menjadi satu dalam perilaku.[19]
Menurut Muchlas Samani dan Hariyanto, menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya. Pendidikan karakter telah menjadi sebuah pergerakan pendidikan yang mendukung pengembangan sosial, pengembangan emosional, dan pengembangan etik para siswa.
Dipihak lain, Lickona dalam Muchlas Samani, mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana, Lickona mendefinisikan juga bahwa pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa.[20]
Sementara menurut Kemdiknas dalam Agus Wibowo, pengertian pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara.[21]
Menurut D. Yahya Khan sebagaimana yang dikutip Jamal Ma’mur Asmani menjelaskan bahwa, pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat dan bangsa. Serta, membantu orang lain untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, pendidikan karakter mengajarkan anak didik berpikir cerdas, mengaktivasi otak tengah secara alami. Sedangkan menurut Suyanto, pendidikan karakter adalah pendidikan budi perkerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).[22]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah bukan jenis mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Moral Pancasila (PMP) atau lainnya, tapi merupakan proses internalisasi atau penanaman nilai-nilai positif kepada peserta didik agar mereka memiliki karakter yang baik sesuai dengan nilai-nilai yang dirujuk, baik dari segi agama, budaya, maupun falsafah bangsa.


[1] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), cet. I, hlm. 38-39
[2] Ibid, hlm. 39
[3] Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, (Jogjakarta: Media Wacana Press, 2003), cet., I, hlm. 9
[4] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan; Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), cet. III, hlm. 20-21
[5] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam; Landasan Teoritis dan Praktis, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2011), cet. III, hlm. 3
[6] Abuddin Nata (Ed), Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Angkasa, 2003), cet. I, hlm. 10
[7] Amirulloh Syarbini, Buku Pintar Pendidikan Karakter, (Jakarta: as@prima pustaka, 2012), cet. I, hlm. 13
[8] Abdullah Munir, Pendidikan Karakter; Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah, (Yogyakarta: PT. Pustaka Insan Madani, 2010), cet. I, hlm. 2
[9] M. Furqon Hidayatullah, Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), cet. III, hlm. 9
[10] Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi, (Jakarta: CV. Rajawali, 1985), cet. II, hlm. 74
[11] J. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1999), cet. V, hlm. 82
[12] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Yogyakarta: Diva Press, 2012), cet. IV, hlm. 28
[13] Ibid., hlm. 28-29
[14] Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), cet. I, hlm. 41
[15] Ibid., hlm. 42
[16] Agus Wibowo, Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah; Konsep dan Praktik Implementasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), cet. I, hlm. 10-11
[17] Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter; Konstruksi Teoritik dan Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), cet. I, hlm. 160
[18] Zainal Aqib dan Sujak, Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter, (Bandung: Yrama Widya, 2011), cet. I, hlm. 3-4
[19] Dharma Kesuma, Cepi Triatna dan Johar Permana, Pendidikan Karakter; Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), cet. II. hlm. 5
[20] Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), cet. I, hlm. 43-44
[21] Agus Wibowo, op. cit. hlm. 13
[22] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), cet. IV, hlm. 30-31

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar